Jumat, 31 Oktober 2008

Sejatinya CiNta, Dimanakah?


CiNta itu...
Apa sebenarnya makna CiNta itu?
Tak pernah aku memahaminya
Katanya CiNta itu adalah simbol kebahagiaan sekaligus penderitaan
Katanya CiNta itu adalah kesemuan belaka
Katanya juga CiNta itu hanya kiasan kehidupan tanpa bisa kita memiliki sepenuhnya
Lalu CiNta itu ada sebenarnya untuk apa?

Apa memang hanya simbolisasi kebahagiaan semata atau mungkin hanya kesemuan belaka tanpa kesejatian yang berarti. Tersadar memang bahwa di dunia ini hanya sebuah fatamorgana atau tidak ada yang abadi. Tapi bisakah kita menuntun CiNta itu untuk tetap di tempatnya, tidak dilebih-lebihkan kadarnya yang terkadang memuakkan karena hanya sekedar kata rayuan atau "gombal" belaka. CiNta sejatinya CiNta tanpa bermaksud untuk mempermainkan, saling menyakiti, mengecewakan atau bahkan mencampakkan begitu saja. Seakan terlupa segala apa yang telah diberi dan yang terlewati bersama. Bisakah kita juga memaknai sebuah Ketulusan CiNta itu tanpa dibaluti pengkhianatan. Kejujuran CiNta dengan tiada kemunafikan. "No Body's perfect U know!!" aku benar-benar sadar akan hal itu tapi kita masih punya hati nurani sebagai Controlling, kita masih mau kan dikategorikan sebagai golongan manusia yang masih punya otak untuk berpikir jernih berbeda jauh sekali bila dibandingkan dengan golongan binatang tentunya yang lebih mengandalkan nafsunya. Saatnya kita semua untuk lebih telaah lagi. Dengan tidak bermaksud menggurui tapi sekedar mengingatkan. Sudah sekian banyak korban dari orang-orang yang tidak mempunyai hati nurani yang telah mencampakkan dan meninggalkannya begitu saja yang menimbulkan banyak efek negatif pada diri psikologis korban. Sekedar untuk instrospeksi diri kita, sebenarnya CiNta yang kita berikan kepada orang yang kita CiNtai saat ini tulus ga sich atau "just status", iba atau "just having fun"????
Up to U guys..

Tapi tetap saja itu semua kembali kepada diri kita semua toh, pada akhirnya segala apa yang kita tanam kita juga yang akan memetik hasilnya nanti kan. Semoga segala apa yang kita berikan kepada seseorang yang telah mengisi hari-hari kita benar-benar tulus apa adanya. Apapun itu dialah yang selama ini cukup berarti buat kita.

Ga perlu sempurna tuk disayangi
Ga perlu tampil istimewa tuk selalu diingat
Tapi yang terpenting bagaimana kita bisa memberikan
sesuatu yang berharga dan berarti penting
dalam kehidupan seseorang tuk selalu dihatinya

Beranikah kau menganggap
bahwa hidup ini seperti buah dadu
yang diambil dari kotaknya
Tanpa pernah tahu nilai yang diperoleh
Kecuali keyakinan untuk nilai kemenangan

Jika kau merasa bahwa takdir
diucapkan oleh Tuhan hanya sekali
Pernahkah kau merasa dengan
melihat bola matanya,
walau hanya sekilas
kau tahu bahwa dia adalah
pasangan jiwamu ? (by iman : Sebuah Pertemuan "Cinta dan Perkawinan" )










Rabu, 22 Oktober 2008

Press Release "Sahkan RUU Pornografi"

Aliansi Pemuda dan Masyarakat Selamatkan Bangsa

PRESS RELEASE

CP Ivan Ahda

Untuk diinformasikan segera


SAHKAN UU PORNOGRAFI SEKARANG JUGA!!!

Indonesia, kembali disuguhkan proses dagelan politik yang menggelikan dalam proses panjang pengesahan RUU Pornografi. Perjuangan yang sudah memakan lebih dari 5 tahun, telah dinodai oleh sekelompok pihak yang secara massif melakukan pembodohan publik terkait RUU pornografi. Sejatinya, RUU yang harusnya bisa disikapi dan dikritisi secara bersama, secara nyata telah dipelintir menjadi sebuah ketakutan yang sungguh tidak beralasan. Muncul isu pemecah-belahan NKRI, disintegrasi bangsa, dasar Negara yang akan diganti, kriminalisasi perempuan, produk hokum yang tidak berguna, budaya dan adapt istiadat yang terancam, hingga isu Islamisasi. Dari berbagai kajian, terbukti masalah-masalah di atas, hanyalah ketakutan dan rekayasa isu pihak-pihak yang mencari keuntungan dari adu domba elemen masyarakat maupun pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari industri pornografi. Berbagai macam alasan penolakan yang diangkat banyak yang tidak menyasar pada substansi RUU yang ada. RUU ini adalah RUU yang pembahasannya paling lama, paling banyak mengakomodir aspirasi masyarakat, hal ini ditandai dengan dilakukannya tujuh kali uji publik kepada masyarakat. Masyarakat harus waspada terhadap pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dari konflik ini, seperti politisi cabul, partai penjegal RUU pornografi, mafia pornografi dan media penyebar kebohongan.

Kami, pemuda mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Dan Masyarakat Selamatkan Bangsa (APMSB) meminta agar DPR tetap konsisten, dan tidak terbawa oleh scenario penggagalan oleh partai tertentu. Khusus kepada partai PDIP dan PDS, kami menuntut untuk serius menjalankan amanat masyarakat sebagai wakil rakyat serta menunjukkan itikad baiknya. Kepada masyarakat, agar mengutamakan kepentingan masa depan bangsa dan tetap jernih dalam menyikapi provokasi media dan kelompok tertentu yang dari sejak semula terbukti tidak pernah setuju dengan lahirnya RUUP ini. kepada media massa, kami menuntut agar menjalankan/tidak mengkhianati 9 prinsip Jurnalisme yang berlaku di seluruh dunia. Kepada pemerintah, setelah RUU Pornografi disahkan, diharapkan segera mensosialisasikan UU Pornografi agar tidak terjadi kesalahpahaman atau disinformasi dalam masyarakat. Dan kepada para penegak hokum diharapkan menjalankan UU Pornografi ini tanpa pandang bulu. Kepada Perorangan, kelompok, dan perusahaan yang terlibat dalam industri pornografi baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk segera menghentikan aktivitasnya dan lebih mementingkan masa depan anak bangsa.

Demikian tuntutan kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan dengan penuh komitmen dan keseriusan pemerintah.

Aliansi Pemuda dan Masyarakat Selamatkan Bangsa

Amorno(Aliansi Masyarakat Anti Porno), FIM (Forum Indonesia Muda), ASA Indonesia (Aliansi Selamatkan Anak Indonesia), LMPI (Lembaga Manajemen Pendidikan Indonesia), Djakarta Publik Society, YKBH (Yayasan Kita dan Buah Hati), FUI (Forum Ummat Islam, PPDMS Nasional, Gamais, Perhimpunan MTP (Masyarakat Tolak Pornografi), KAMMI, PII (Pelajar Islam Indonesia), HMI MPO, LDK Alhurriyyah IPB, FSLDK NASIONAL, GPI, BMOIWI, SALAM UI, LDK SYAHID UIN, Indication (Institute For Democracy and Civic Education), APPMB, Rumah Parenting, Dewan Tani Indonesia, Rumbel Kita, Remaja Ashr, JBDK, Genap, HMI Pustara Jakarta, Mer-C.

Senin, 20 Oktober 2008

Seorang Pencinta


Pecinta tidak akan mampu membuktikan

Keindahan kekasihnya
Namun tidak akan ada seorang pun
yang mampu meyakinkannya
agar membenci kekasihnya
Memang demikian adanya
Dalam perkara semacam ini
Bukti logis itu tidak berarti
Menghadapi peristiwa yang demikian
Orang mesti langsung menerjunkan diri
Dan menjadi pencari hubungan cinta

_Jalaluddin Rumi_

Pencarian Manusia



Dari Hampa ke Cinta Paripurna

Saya tergugah sekalli lho pemaknaan dalam atas nama Cinta.. Pada minggu siang , saya baca koran Kompas tertanggal 19 Oktober 2008. Dari sinilah saya tahu kemana sebenarnya arah kalau kita mencintai seseorang tanpa harus ada peran subjektif untuk memiliki sepenuhnya. Lebih afdhol lagi kalau kita baca selanjutnya aja ya... Monggo....

Siapa yang Tidak Tahu apa pun
Tidak Mencintai apa pun
Tidak Melakukan apa pun
Tidak Memahami apa pun
Barang siapa tidak memahami apa pun, tidak memiliki arti.
Paracelsus

Mungkin inilah makna terdalam dari hubungan CiNta pada satu hal yang
"Maha Sempurna" : memberi peluang terbaik bagi manusia mewujudkan semua kesempurnaan.

-Kierkgaard-


Sebagai makhluk, manusia membutuhkan berbagai macam relasi. Entah antara dirinya dengan manusia lain, dengan lingkungan, dunia luas, maupun dengan Tuhan yang menciptakannya. Namun, pada mulanya, manusia hadir di bumi dalam kesendirian. Ia pun sesuatu yang unik, keadaan yang sebenarnya membuat ia terpencil. Untuk itulah ia secara alamiah senantiasa berusaha menciptakan hubungan. Salah satu motif, juga makna-mungkin yang terpenting, dalam berbagai hubungan itu adalah apa yang kita kenal dengan : " CiNta " Semacam kandungan perasaan yang timbul dari kegelisahan akan keterpisahan atau keterpencilan.

Bagi manusia dewasa, cinta merupakan perwujudan penyatuan yang esensial, yang memberi kemungkinan manusia menemukan orang lain dalam dirinya, walaupun individualistisnya tetap terjaga. Penyatuan tanpa peleburan, di mana sesungguhnya bukan situasi saling memiliki terjadi, tetapi keberadaan yang sejajar di antara keduanya. Konsep "saling memiliki" mengindikasikan hilangnya subjektivitas manusia, lantaran pemosisiannya sebagai benda, obyek yang pasif. Sementara itu, Cinta tidak harus melucuti posisi manusia sebagai subyek, dengan kapasitas yang sama baik dalam memberi maupun menerima.

Seperti dinyatakan Martin Buber, manusia mempunyai dua relasi fundamental, yaitu relasi dengan benda (Ich-Es) serta relasi dengan sesama manusia dan Tuhan (Ich-Du). Maka ketika manusia berusaha memiliki sesamanya, di sana tidak ada hubungan Aku-Engkau, karena yang ada adalah hubungan Aku-Itu. Di mana dunia yang dicitrakan adalah dunia benda-benda, sesuatu yang dibendakan lewat semacam bentuk relasi yang dominatif.

Cinta Destruktif

Kesendirian manusia tetap akan terjadi apabila tidak ada pengakuan dalam relasi di atas. Mungkin berbeda dengan pendekatan Marxis, aliensi semacam ini terjadi bukan karena manusia kehilangan dirinya, tetapi lebih pada hilangnya "engkau". Begitu pun dalam relasi yang terbentuk karena CiNta, kehampaan dan kesendirian terjadi bukan karena lenyapnya objek CiNta. Semacam obyektivitasi yang terjadi saat kita menyatakan telah "Jatuh CiNta". Sejatinya cinta tidak pernah jatuh, sebab cinta yang jatuh memiliki bawaan yang dominatif, dan karenanya memiliki kecenderungan yang destruktif.

Cinta adalah standing in (bertahan di dalam). Dan karena CiNta adalah tindakan, maka pertama-tama CiNta adalah memberi, dalam artian yang produktif. Maka CiNta yang hampa adalah cinta yang hanya memberi tanpa menerima.

Sementara itu, CiNta yang bermakna memilik, maka yang terjadi adalah semacam obyektivitasi pasif. CiNta pun tak berbalas, dan penderitaan eksitensial pun terjadi. Seperti dikatakan Marcell, "manusia yang memiliki pada dasarnya dimiliki, dan disanalah penderitaan itu berada". Dan manusia yang memiliki CiNta seperti ini hanya akan menjadi obyek dari penderitaannya. Sedangkan apabila CiNta dimaknai secara benar, maka yang akan terwujud justru Integritas. Ia akan tetap menjadi diri sendiri, bukan satu pribadi yang sepi. Walaupun derita masih ada, ia menjadi subyek yang aktif, sadar dan berproses. Sesuatu yang terus "menjadi" kata Erich Fromm.

Dari Hampa ke Tuhan

Bila kehampaan CiNta antar manusia tetap terjadi, seseorang mengalami apa yang disebut dengan "kembali pada asal". Awal dari kesunyian manusia di dunia. Sehingga seseorang pun mulai terdesak untuk mencari relasi atau hubungan-hubungan yang baru. Mencari engku-engkau yang baru, yang dianggapnya memiliki kemampuan (saling) memberi (dengannya). Pada titik ini, CiNta dapat menjadi sebuah aksi pencarian yang bersinambungan. Inilah inti dari pencarian keber"ada"an manusia dalam dunia. Mnecari integritas diri yang sesungguhnya. Karenanya, betapa pun hampa CiNta itu, ia tetap membuat manusia bersikap produktif. Produktif dalam mencari dan memproduksi CiNta yang mampu mengatasi kesendiriannya sebagai manusia.

Di sini, muncullah Kierkegaard, yang menawarkan satu relasi lain yang khas : relasi manusia dengan Tuhannya. Bagi Kierkegaard, hubungan manusia dengan Tuhanlah yang sejati dibutuhkan, bahkan tak terelakkan. Karena dalam hubungan ini, manusia senantiasa menemukan dirinya sebagai subyek. Subyek yang aktif. Aktif dalam menyempurnakan hubungan, menyempurnakan CiNta, menyempurnakan dirinya. Mungkin inilah makna terdalam dari hubungan CiNta pada satu hal yang "Maha Sempurna" : memberi peluang terbaik bagi manusia mewujudkan semua kesempurnaan.

Akan tetapi, menariknya, sebagai makhluk unik, manusia juga adalah makhluk yang kompleks. Makhluk dengan dimensi sosial, biologis, dan spiritual sekaligus. Yang dengan ketiga dimensi itu ia mencari cintanya sendiri-sendiri. Sebuah pencarian kompleks yang-tak terhindar-membuat manusia selalu berada dalam gejolak. Gejolak yang juga-tak lain-representasi dari kegelisahan purbanya itu.

Keadaan itu pulalah yang membuat hidup-dan manusia itu sendiri-senantiasa menjadi fenomena yang menarik. Pencari CiNta, yang kadang bergerak di antara satu kehampaan ke kehampaan lainnya, membuat manusia seharusnya kian matang, kian dewasa. Kian mampu, bukan hanya memaknai, tetapi juga mengatasi kehampaannya itu. Dan beruntunglah yang berproses "menjadi" seperti itu. Pemahaman yang graduatif-promotif tentang CiNta pasti akan berdampak pada fungsinya sebagai manusia, sebagai makhluk sosial, sebagai warga dari sebuah semesta. Pada puncak dari pemcarian, peran dan fungsinya itulah, kebahagiaan manusia terelak, terwujud juga secara graduatif-promotif.

Betapa bersyukurnya, ia-manusia yang berhasil mencapai tingkat-tingkat kebahagiaan itu. Dengan selalu, memaknai-justru-kehampaan dan penderitaan CiNta, sebagai modal utama dari eksistensi mereka. Eksistensi yang dengan setia selalu mendekati eksistensi lain yang "Sempurna". Karena di situlah sebenarnya menetap, CiNta yang juga sempurna.

ARDIAN AGIL WASKITO
Peminat CiNta, mahasiswa akhir Fakutas Psikologi Undip,
Semarang